Ciptakan Peluang Melalui Literasi Digital

 GMLD  18

Narasumber :  Leni Priska

Moderator   : Deni Darmawan


Di era digital banyak peluang yang dilakukan orang untuk melakukan berbagai kegiatan untuk memenuhi tujuan hidupnya. Hal tersebut tergantung orientasi yang diprogramkan, dimana masing-masing individu berbeda-beda. Namun sebagian besar masyarakat merasa kesulitan untuk menciptakan peluang itu. Pelatihan GMLD pertemuan ke 18 yang dibawakan oleh Ibu Leni Priska dengan moderator Bapak Deni darmawan mengajak kita untuk mampu menciptakan peluang melalui Literasi digital.


Persaingan global telah menuntut kita untuk mampu menciptakan inovasi melalui dunia digital. Pemerintah telah menjembatani agar kita bisa mengembangkan kecakapan di dunia digital sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Presiden Joko Widodo bersama Siber Kreasi bahwa pembangunan konektifitas digital dan talenta digital telah diupayakan pemerintah melalui berbagai program yaitu Penyediaan kapasitas satelit multifungsi pemerintah SATRIA, pembangunan menara-menara BIS, program digital talenta scholarship dan Gerakan Nasional Lliterasi Digital.

 

Penyediaan jaringan digital yang luas akan memberi kesempatan untuk memanfaatkannya dengan baik. Masa depan generasi dipertaruhkan, konten-konten yang positif dan mendidik yang harus mengisi ruang digital. Itulah tugas yang harus diemban oleh guru. Guru harus mampu menjadi motivator literasi digital. Oleh sebab itu marilah kita gaungkan GMLD untuk mengimbangi konten-konten yang buruk sehingga pengakses tidak terkena imbas yang tidak baik.


Berbagai survey tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Hal tersebut menjadi PR bagi kita semua, terutama peran guru sangat penting, karena gurulah yang berkecimpung di bidang pendidikan.


Untuk mengembangkan literasi digital, masih banyak sandungan yang kita hadapi. Walaupun pemerintah telah berupaya untuk pembangunan dibidang jaringan, Namun dibidang pembangunan teknologi tertinggal di negara G 20 lainya.



Data tersebut  diambil dari modul cakap berliterasi digital  yang dirilis oleh Internatiinal Telecommunication Union (ITU) tahun 2017  bahwa Indonesia  berada pada posisi ke 144 atau terendah kedua setelah India. 


Kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan keluarga dan kemudian sekolah harus mendorong agar peserta didik gemar membaca. Berkaca dari negara yang mempunyai literasi terbaik  yakni Finlandia, memperlakukan rakyatnya agar gemar membaca.


Mengapa negara Finlandia  menjadi negara terbaik dalam berliterasi?

1. Sekolah mulai usia 7 tahun

Jika kita bandingkan dengan Indonesia, orang tua bangga jika anaknya lebih awal masuk sekolah. Bahkan sebelum ada peraturan dari kementerian dengan adanya aplikasi dapodik, usia 5 tahun sudah ada yang duduk di kelas 1 SD. Kondisi berbanding terbalik dengan  pendidikan Findlanida  anak-anak bisa masuk sekolah saat usia 7 tahun atau lebih dengan guru-guru yang kompeten. Pendidikan di sana lebih menekankan kolaborasi daripada kompetisi, bukan manfaatkan pada teks atau perolehan nilai namun pembelajaran yang menyenangkan dengan metode bermain, imajinasi dan self-discovery . Sekolah mewajibkan belajar bahasa Inggris dan membaca satu buku setiap minggu. 

2. Fasilitas perpustakaan ada dimana-mana

Fasilitas perpustakaan yang ada di Finlandia menyebar dimana-mana di sekolah-sekolah, baik tingkat dasar hingga perguruan tinggi, di setiap daerah dan desa desa. Pengelolaan yang  apik dalam pengelolaannya melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya, diciptakan  fasilitas yang nyaman untuk kegiatan membaca. Selain itu program program kreatif selalu diadakan sehingga perpustakaan tersebut tidak sepi pengunjung. 

3. Matematy  package dilengkapi buku.

Matematy package merupakan paket yang disediakan bagi wanita yang melahirkan, untuk  memperoleh haknya  dari pemerintah yang berupa paket perlengkapan bayi mulai dari baju bayi, mainan bayi dan lain-lain sehingga paket buku untuk anak. Pemerintah sangat memperhatikan pendidikan awal yang dimulai dari keluarga. 

4. Bacakan dongeng sebelum tidur

Dongeng sebelum tidur ternyata merupakan tradisi  turun temurun yang ditanamkan untuk mengenalkan anak-anak tentang nilai baik dan  buruk. Hal tersebut sangat berbeda dengan anak-anak Indonesia saat ini. Tradisi zaman dahulu yang ditanamkan oleh orang tua kita nenek-nenek kita sudah luntur, anak-anak menjelang tidur hanya disibukkan dengan main HP atau game. 

5. Acara TV asing dilarang di alihsuarakan. 

Penayangan televisi asing yang menggunakan bahasa asing tidak dilakukan dubbing atau oleh suara. Namun hanya ditampilkan subtittle  atau teks di bawah film atau tayangan dengan tujuan masyarakat di sana terbiasa membaca pada saat setiap penonton televisi.

Ada beberapa manfaat literasi digital sebagaimana paparan yang disampaikan Ibu Leni Priska sebagai berikut, 

  1. Menghemat waktu
  2. Memperluas jaringan
  3. Menghemat biaya
  4. Membuat keputusan dengan baik
  5. Belajar lebih cepat dan efisien
  6.  Memperoleh informasi dengan cepat
  7. Ramah lingkungan
  8.   Memperkaya keterampilan.

Bagaimana cara menciptakan peluang melalui literasi digital? 

1. Berdasarkan kebutuhan

Banyak kegiatan yang bisa. kita lakukan untuk mengembangkan diri.  Peluang itu selalu ada, tergantung dari kemauan. Setiap ada peluang kita gunakan sebaik-baiknya dengan membaca kebutuhan. Apa yang diperlukan orang? Kita ciptakan karya ciptakan karya diigital, berupa tulisan, ataupun  video yang kita buat di media online, dan platform platform digital lainnya. 

Di dalam platform tersebut kita menulis apa yang saat ini lagi trend, dibutuhkan orang bisa berupa artikel dan lain-lain. Tunjukkan melalui channel YouTube mengupload membuat video berupa tutorial, trik dan tips, dan hal-hal yang lain yang menarik.

2..Kamampuan diri 

tuk melakukan aktivitas tersebut Sudah barang tentu memerlukan keterampilan.  Kemampuan diri  bisa diasah apa terus-menerus, belajar dan belajar kemudian kita mencoba. 

3. Hobi

Apa yang menjadikan hobi telah kita pupuk dan kita kembangkan. Optimalkan hobi sehingga mempunyai nilai produktivitas dan bermUnanfaat bagi orang lain.  Pada.awalnya mengambangkan hobi tidak memikirkan untung dan rugi. Namun kita bisa tahu suatu saat akan mendatang cuan. 

Kita harus bisa menangkap peluang, bukan menunggu.peluang itu datang. Dan semua diri kita gali melalui dunia digital, apapun hobi dikembangkan, media digital sebagai alat bantu mengenalkan, menyalurkan,  menyebarkan hobi kita. Sebagai guru literasi digital kita sosialisasikan dan kita galakkan di lingkungan sekolah, sehingga guru dan siswa mempunyai kecakapan digital, membentuk generasi unggul dan bertanggung jawab,. Ciptakan peluang di masa yang akan datang. Mari kita  serbu konten-konten dunia digital kita dengan kegiatan yang bermanfaat. 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelombang Senja

Menjadi Pejuang Kebenaran di Tengah Gempuran Hoaks

BUku Mahkota Penulis, Buku Muara Penulis