Merajut Asa di Balik Pandemi

 Mentari masih bertengger di batas tegak. Semilir angin berhembus, dedaunan berkelok melambai. Tenangnya aliran Sungai Sepihan, membawa keceriaan anak-anak dusun.

“Byur, byur …”   

Beberapa dari mereka meloncat ke sungai, kepiawaian berenangnya sudah tidak diragukan lagi. Kali ini Ari tidak ikut serta mengikuti jejak rekannya. Ia berdiri mematung, sesaat kemudian membalikkan badannya.  

 "Ada apa Nak, kau tidak ikut bermain dengan mereka?" Sapa emaknya dari kejauhan. Ari hanya menggelengkan kepala kemudian mendekati emaknya yang berada di samping rumah. 

"Ari bantu ya, Mak" kata Ari sembari mengambil pisau untuk memotong kayu bakar. 

"Aduh…" teriak Ari sambil memegang tangannya yang sedikit tergores pisau.

 'Hati-hati Ar" timpal emaknya. 

Memang Ari kurang fokus karena pandangan matanya tertuju pada sepeda tuanya yang lama tidak bisa digunakan. Ia teringat akan tugas sekolah yang diberikan Pak Rudi guru kelasnya. Oleh karena Ari tidak memiliki HP, Pak Rudi menganjurkan untuk bergabung bersama Sandi untuk melakukan pembelajaran melalui media WhatsApp. Kebetulan rumah Sandi beberapa ratus meter saja.

 "Mak… Ari hampir tidak ingat, Pak Rudi memberi tugas siang ini," Ari merasa kesal dengan kondisi yang terjadi saat ini. Pandemi Covid 19 telah menghilangkan kesempatan untuk belajar dengan nyaman.  

"Berangkat sana, Sandi sudah menunggu!” sahut enaknya memberikan semangat.

        

*****

Putut dan teman-temanya masih asyik bermain air di sungai. 

"Ambil bolanya!” teriak Iwan kepada Putut sambil mengangkat-angkat kedua tangannya. 

Berenang sambil bermain bola menjadi ajang hiburan bagi mereka, di saat anak-anak yang lain duduk berhadapan layar HP. Sementara permainan yang melibatkan gerak fisik keseharian mereka.

 Tak seberapa lama, Ari melintasi kawan-kawannya dengan menenteng tas. 

"Kemana Ar" tanya putut keheranan.

 "Kamu tidak mengerjakan tugas Tut" Ari balik bertanya. 

Masalah belajar putut agak malas. Kurangnya perhatian orang tua salah satu penyebab. Emak dan abahnya pagi-pagi buta harus sudah berangkat ke kebun untuk memanen buah sawit milik Pak Darma.

"Hati-hati … jangan lama-lama di sungai" terdengar suara Amang Rani memberi peringatan . 

"Di muara sungai ada seekor anak buaya naik ke hulu.” Seketika anak-anak tersebut berenang kepinggir sungai dan naik keatas. 

Sungai selama bertahun-tahun tidak pernah ada ancaman buaya, saat ini ada saja khabar jika ada yang disambar binatang melata tersebut yang membuat bergidik. Ari menghela nafas, sementara keseharian mereka selalu bergelut dengan sungai yang ada di depan rumahnya. Melihat teman-teman sepermainannya meninggalkan sungai, Ari merasa.lega, kemudian mempercepat langkahnya menuju rumah Sandi.

Di rumah Sandi sudah menunggu dua kawannya. 

 "Kami sudah selesai Ar, tinggal main game," kata salah satu kawannya yang masing-masing membawa gawai dari rumah. Walaupun ada paket pulsa gratis dari pemerintah, namun sulitnya sinyal menjadi kendala. 

  Ari mulai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Rudi guru kelasnya. Satu persatu permasalahan dapat dipecahkan hingga tuntas.  

"San .. ikut upload tugas ya. .." pinta Ari.

Sandi mengambil keras jawaban milik Ari dan mengirimkan ke WhatsApp Pak Rudi.

Terbersit ingatan Ari tertuju akan keberadaan buaya di kampungnya. 

" San .. bisa aku pinjam HP lagi sebentar" pinta Ari memelas. Sandi mengulurkan tangannya sambil menggenggam Hp ke arah Ari. 

     "Terimakasih ya" kata Ari kegirangan.  

Ari memainkan jemarinya, untuk melakukan pencarian di google. " Buaya muara" Ari membaca di mesin pencarian. Buaya muara menyerang manusia. Ari membaca satu persatu beberapa artikel tentang keberadaan buaya. Apakah karena kurangnya pasokan makanan menyebabkan buaya tersebut kelaparan. Ketidak seimbangan ekosistem, Ari mengaitkan dengan pelajaran yang ada di sekolah. 

" Serius banget Ar" Sapa Sandi seketika.

“ Maaf aku kelamaan pinjam HP-mu, sudah selesai kok. Aku cuma penasaran mengapa ya di daerah kita, baru hari ini saja buaya sering menyerang manusia.

”Iya Ar.. yang penting kita jangan ganggu habitat mereka,” kata Sandi menguatkan pendapat Ari. 

Ari merasakan banyak hal yang didapatkan berada di rumah Sandi. Fasilitas yang dimiliki Sandi tidak dimilikinya. Namun Ari tidak berkecil hati. Ia sangat sayang sama emak dan abah. 

"San .. Aku pulang dulu ya," Pamit Ari sambil merapikan buku-buku yang masih berserakan.

Ari menyusuri jalan yang berbatasan dengan aliran Sungai Sepihan. Permainan imajinasi berperang di masa pandemi antata ketidakmampuan, tuntutan teknologi, dan masa depan. Sesekali delik matanya terarah rumah-rumah penduduk yang dilaluinya. Begitu sederhana kehidupan masyarakat di kampungnya. 

        Ari termangu … dipandangi rumah konstruksi kayu ukuran 5 m x 5 m, tidak tertata rapi dan berwarna kusam karena sama sekali tidak ada polesan cat. Itulah hunian Ari bersama keluarganya. "Mungkinkah aku bisa meraih mimpi?" Ari bergumam dalam hatinya. 

"Mengapa tidak lekas masuk? Sudah mulai gerimis di luar!" tegur emaknya, sambil memperhatikan gerak gerik ari.     

"Ar" panggil.emaknya lagi. 

     "Iy, iya, Mak…" Ari menjawab panggilan emaknya agak gugup. .Ada beban yang masih belum terurai. 

 "Mak .. saatnya nanti jika sudah kerja, Ari akan merenovasi rumah ini." Secara reflek Ari mengungkapkan apa yang dipendamnya. 

 Mendengar penuturan Ari, emaknya geleng-geleng. 

"Tugas kamu itu belajar Ar, biar jadi anak pintar, bukan seperti Emak, hanya lulusan SD" kata emaknya menasehati Ari.  

 "Iya Mak… tadi Ari pinjam HP Sandi, mudah mendapatkan pengetahuan apa saja yang kita inginkan." 

 Emaknya menarik nafas, bingung apa yang harus diungkapkan kepada Ari. Kondisi saat ini keberadaan HP penting. Namun apa daya .untuk sekedar mengajak isi perut saja sudah syukur. 

  "Kita berdoa saja, Abah dapat rejeki banyak… seminggu lagi pulang." Emaknya memberikan harapan kepada Ari agar tidak terlalu banyak berpikir. 


    *****

Masyarakat Kampung sepihan sangat beruntung. Walaupun aksen sinyal seluler susah didapatkan, namun jaringan kabel sudah menjangkau. Beberapa dari mereka bisa menggunakan jaringan indihome dengan tujuan bisnis. Lumayan paling tidak bisa menambah dapur keluarga. Namun sayang para pengguna dibanjiri oleh anak-anak usia sekolah. Kebanyakan dari mereka datang ke tempat tersebut untuk sekedar bermain game. Salah satu pemilik jaringan tersebut adalah Bang Danu. 

          "Mak, hari ini tidak ada tugas dari sekolah, Ari mau ke rumah Bang Danu,” pamit Ari kepada emaknya. 

"Iya .. hati-hati Ar, jaga diri," pesan emaknya khawatir jika tidak bisa menjaga diri ikut-ikutan hal hal yang tidak baik.

"Iya .. Mak, Ari hanya sekedar nonton mereka main saja," Ari menjawab dengan santai. 

           Di rumah Bang Danu sejak pagi sudah berkerumun anak-anak dengan berhadap layar HP masing-masing. Mereka asyik bermain game. 

 "Ari kemari!" kata Dimas yang merupakan adik kelas Ari.

  Seringkali Ari dipinjam sebentar di HP kawan-kawannya karena merasa kasihan, namun hanya sebentar. Selebihnya sekedar menonton keseruan mereka bermain. Sudah berjam-jam berlalu, tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Panas Semakin menyengat, rumah Bang Danu yang beratap seng menambah ketidaknyamanan.

 "Dim … Dimas… ada suara Bik Rom yang mencari keberadaanya. 

        "Sudah siang Dim" tegur Bik Rom emaknya Dimas mendekati di mana Dimas berada. "Sini HP nya" Bik Rom meraih HP yang dipegang Dimas. Secara reflek Dimas menghindari emaknya.

         "Gak mau, Dimas di sini saja, masih belum selesai" Bik Rom marah dan semakin emosi. Dimas pun Semakin memberontak.dan lari menjauhi emaknya. 

Ari tercengang atas kelakuan Dimas. Ari .teringat pada pesan Pak Rudi , ciri-ciri kecanduan game. Apakah tingkah laku Dimas termasuk dalam kategori tersebut? Ari berfikir keras. Tiba-tiba Ari dikejutkan oleh gerakan Dimas yang lari dari atrah belakang. Tanpa sepengetahuan Ari, Dimas memasukkan HP-nya di tas Ari agar tidak di ambil emaknya. Begitu Ari menoleh, Arif sudah menjauh entah kemana. Ari gelisah dan teringat pesan emaknya. Diambilnya tas yang dia bawa dan beranjak dari tempat duduknya. 

      " Kamu mau kemana Ar,” tegur Amal yang sedang asyik bermain game. “Sudahlah gak usah pedulikan sikap Dimas, memang seringkali uring-uringan sama emaknya.”

 "Tidak kok Mal, Kalo kelamaan di sini kasian emak mengkhawatirkanku,” ketus Ari, dan meninggalkan tempat tersebut.  

  *****

Dimas yang datang dari rumah Bang Danu tidak masuk ke dalam rumah, padahal perutnya keroncongan.  

"Pulang, Dim!" emaknya yang melihat kelebat Dimas teriak nyaring, membuat Dimas semakin berontak. 

 Itulah sikap Dimas semakin diinterogasi semakin liar. Secara reflek ia mengambil batu dan melemparnya tepat mengenai jendela rumah. Emaknya semakin geram… jalan satu-satunya adalah didiamkan lebih dahulu. Apapun yang terjadi pada Dimas, pada akhirnya membiarkan sampai dimana sikap keterlaluan Dimas. Sikap arogan akan hilang sendiri. 

Betul apa yang diperkirakan emaknya, Dimas melintasi dapur dan menuju meja makan. Jiwa keibuan masih tersemat akan kekhawatiran putranya. Bik Rom menyadari jika dikerasi semakin berontak, namun seringkali membuat uring uringan. Emosi tidak terkendali. Jika kewalahan, ketegangan diturunkan secara perlahan -lahan. 

Bik Rom mengamati Dimas yang sedang makan begitu lahap. Namun ada yang ganjil, .biasanya setelah pulang dari rumah Bang Danu, Dimas menyimpan HP-nya di atas meja, kali ini pulang dengan tangan kosong.

"Dim, mana HP-mu..". 

 "Hilang, Mak!”

"Apa?” Emosi Bik Rom kembali meradang, namun jiwanya sudah lelah, meredam amarah akan lebih tepat. Bil Rom percaya pada Ari…, mungkin Ari tahu akan keberadaan benda tersebut. Bik Rom tahu betul dimana posisi Dimas saat berada di rumah Bang Danu. 

                    *****

Sudah menjadi kebiasaan Ari bangun lebih awal. Seiring terbitnya fajar, mendorong Ari untuk berangkat ke mushola dekat rumah nya untuk mengumandangkan Azan dan menjalankan sholat subuh berjamaah. Setelah sholat subuh Ari berjalan-jalan bersama temannya. Putut dan Iwan sudah berjalan beberapa langkah, kemudian menoleh ke arah Ari yang masih duduk termangu. 

“Ada apa Ar … yuk, kita jalan pagi.” 

      "Aku langsung pulang Tut, sakit perut,” tutur Ari memberi alasan dan kembali ke rumah untuk bantu kerja emaknya. Diambilnya sapu untuk membersihkan halaman rumah.   

  "Ar … emak ke kebun Pak Darma ya, emak disuruh bantu menyadap karet karena tukang sadap ijin ke tempat saudaranya. Di sana ada hajatan. Jangan kemana-mana, kalo sudah jamnya langsung belajar," pesan emaknya.

 "Iya Mak," .jawab Ari kemudian melanjutkan membersihkan halaman. 

Waktu terus berjalan, Ari sudah menunjukkan pukul 7.30 sudah saatnya menyiapkan buku untuk belajar daring. ia harus ke rumah Sandi lagi. Betapa kagetnya pada saat mengambil tas kecilnya, tersimpan HP milik Dimas. Ari gelisah bagaimana jika dituduh mencuri.  


 ****

Usai belajar di rumah Sandi, Ari tidak pulang. Ia merasa bertanggung jawab apa yang telah terjadi, walaupun hal tersebut ulah Dimas. Ari melangkah menyusuri jalan sungai sepihan. “Apakah emaknya Dimas bisa mengerti jika bukan aku yang bersalah,” batin Ari berperang dengan dirinya sendiri, hingga sampai didepan rumah Bang Danu. Ari berhenti sejenak, niat ingin menanyakan kepada temannya yang berada di rumah itu dan ingin memastikan bahwa HP yang ada dalam tasnya milik Dimas atau bukan, walaupun keyakinan sudah tersimpan, bahwa itu milik Dimas. Pada waktu yang bersamaan emaknya Dimas datang di ke tempat itu. Ari langsung menghampiri Bik Rom dan memastikan apakah HP tersebut mili Dimas. .Ari menceritakan bagaimana tahu-tahu di tas kecilnya ada tersimpan HP. 

     "Terimakasih Nak Ari, untung tas itu milik kamu," Bin Rom sangat menyayangkan sikap Dimas yang sering ceroboh. 

       Ari masih memandangi Bik Rom yang meninggalkannya. Ari merasa prihatin akan keadaan yang menimpa kawan sepermainannya. Di.kala ia menginginkan kepemilikan HP agar bisa belajar dilain pihak banyak yang terlena salah dalam penggunaannya.   

 Ditengah kegalauan nya… dikejutkan oleh kedatangan pak Rudi guru kelasnya.

 "Kemana saja kamu Ar, Bapak tadi berpesan pada Sandi, ternyata kamu di sini,

" Iya pak… ada masalah sedikit dengan Dimas. Mendengar penuturan Ari, Pak Rudi hanya tersenyum, sudah jangan dipikir. Kegiatan anak selama sudah ada dalam pantauan sekolah."  

    Dari hasil pemantauan Pak Rudi sudah mengetahui bagaimana kegiatan siswa siswinya selama PJJ. Pak Rudi sekaligus mengantar surat undangan tentang pendampingan orang tua dalam penggunaan internet melalui google meet. Nanti pembelajaran menggunakan aplikasi pembelajaran. Anak-anak yang tidak memiliki HP bisa datang ke sekolah dan tetap bisa belajar menggunakan fasilitas sekolah.

Pagi itu Ari, Putut dan kawan-kawannya yang senasib sudah siap berangkat sekolah. Walaupun hanya berjalan kaki, namun tidak mematahkan semangat mereka, alam telah menempa ketegaran. 

Tibalah mereka di sekolah tempat menimba Ilmu. Pak Rudi tetap memberikan kesempatan yang sama kepada semua siswa penggunaan media online . Pak Rudi berharap siswa siswinya mampu memanfaatkan aplikasi pembelajaran, walaupun nanti di kala pembelajaran secara normal. "Ada tablet untuk kalian, namun hanya bisa digunakan di sekolah saja, jangan dibawa pulang" " Pak Rudi penjelasan kepada mereka sambil memasangkan password WiFi sekolah.  

   Ari sangat bersyukur, mendapat kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lain. Kini Ari telah mengerti, apa yang tidak dimiliki bukan berarti tidak bisa berbuat. Ia bertekad akan selalu menjalankan tugas yang menjadi kewajibannya. Ia sangat yakin, siapapun mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita. 



 




Komentar

  1. Keren cita2 Ari. Masih kecil sudah bisa berpikir ingin renovasi rumahnya yg kecil dan tanpa cat.

    BalasHapus
  2. Terimakasih pak..sudah singgah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelombang Senja

Menjadi Pejuang Kebenaran di Tengah Gempuran Hoaks

BUku Mahkota Penulis, Buku Muara Penulis